Stop Musik Bajakan!

March 10, 2016 by in category Blog tagged as , , , , with 0 and 0
Home > Stop Musik Bajakan! > Blog > Stop Musik Bajakan!

Bukan tak mungkin bila seseorang selama hidup tak pernah mendengarkan musik. Musik sudah menjadi gaya hidup masyarakat di dunia. Musik dapat menggambarkan suasana hati seseorang bila dimainkan. Permainan alat music yang indah menjadi tolok ukur sebuah kualitas music di eranya. Penampilan dari kafe ke kafe adalah salah satu pencapaian bagi seorang musisi. Setelah semua itu, penampilan dari panggung ke panggung menjadi tolok ukur keberadaan sebuah musisi di masyarakat.

Panggung demi panggung dikunjungi, banyak sekali penggemar-penggemar baru disetiap panggung tersebut. Lalu permintaan dari para penggemar semakin meningkat untuk mendengarakan music dari bintang favoritnya. Munculnya vinyl (piringan hitam) pertama kali bertujuan untuk merekam lagu yang dinyanyikan oleh musisi dan bertujuan untuk didistribusikan ke penggemarnya.

Vinyl menjadi format rekaman music pertama yang hadir di masyarakat. Bentuknya yang besar dan padat membuat piringan hitam menjadi koleksi penggemar music saat itu. Format vinyl hanya bisa dinikmati di rumah saja karena alat pemutar vinyl besar dan sulit untuk dibawa kemana-mana. Nikmatnya suara dari vinyl ternyata tergeser dengan hal sesuatu yang lebih compact.

Kaset pita adalah format selanjutnya setelah vinyl. Dengan harga yang lebih bersahabat dan ukuran yang lebih kecil, kaset pita ini menjadi format yang paling digemari di masanya. Kaset pita atau yang sering disebut dengan tape ini menjadi format yang cukup lama Berjaya dimasyarakat dunia. Walkman sempat menjadi sebuah gaya hidup pecinta music pada waktu itu. Dengan meggunakan Walkman masyarakat bisa mendengarakan lagu dimanapun dia berada. Tetapi kaset dengan kualitas murah akan cepat rusak bila diputar secara terus menerus. Hal ini membuat menjadi pertimbangan format selanjutnya.

Compact Disc (CD) dan Video Compact Disc (VCD) menjadi format selanjutnya yang sampai sekarang masih eksis. Bentuk mini dari vinyl ini menjadi bentuk fisik paling murah dari pendahulunya. CD memiliki harga yang lebih murah dibanding dengan vinyl dan kaset pita. Dengan packaging CD yang lebih keren membuat format ini menjadi buruan masyarakat di era 80an hingga sekarang. Kelebihan format ini sudah bersahabat dengan teknologi digital. Jadi dengan memilik CD bisa dikonversikan menjadi digital (mp3) melalui komputer.

Akhirnya setelah format music itu dibuat dalam bentuk fisik, muncul yang namanya music digital. Music digital ini adalah format music yang paling murah. Format ini dijual dalam bentuk digital. Jadi pembeliaannya melalui digital, bisa dibeli melalui Amazon, iTunes, Spotify dan lain-lain. Tetapi terkadang penghargaan fans terhadap musisi itu tak seperti yang dibayangkan. Walau sudah muncul berbagai macam format music yang memudahkan masyarakat untuk memilih, tapi masih banyak sekali masyarakat yang mengambil jalan yang salah dalam menghargai musisi.

Salah satunya dengan pembajakan musik yang dilakukan seiring majunya teknologi. Pembajakan ini sangat dekat dengan budaya populer yang hadir di masyarakat sekarang ini. Menurut John Storey menekankan bahwa budaya populer muncul dari urbanisasi akibat revolusi industri, yang mengindentifikasi istilah umum dengan definisi budaya massa. Lalu budaya Pop selalu berubah dan muncul secara unik di berbagai tempat dan waktu.

Pembajakan ini saya lihat sebagai budaya populer yang hidup subur di masyarakat Indonesia. Bila dilihat dari cirinya  adaptabilitas, pembajakan menjadikan masyarakat itu menjadi nyaman, Kenapa bisa? Karena masyarakat tak harus membeli sebuah album music dari musisi tertentu. Merekan tinggal mencari di internet saja, lagu yang diingankanya dengan kualitas audio yang sama dengan aslinya bisa mereka dapatkan secara gratis.

Hal itu menjadi tren di kalangan masyarakat saat ini dengan kemajuan teknologi. Tidak sedikit masyarakat yang melakukan pembajakan ini. Contohnya masyarakat mendownload lagu dari internet tanpa membayar ke pembuatnya atau dari link yang tidak resmi, itu merupakan bentuk pembajakan. Lalu dengan mengirimkan melalui Bluetooth atau aplikasi sharing file lainya itu adalah bentuk dari pembajakan music.

Tren itu sampai detik ini masih saja dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Tren seperti ini sangat merugikan pihak musisi dan sangat membahagiakan bagi pembajak. Hal ini sangat sulit dibasmi di Indonesia. Karena pengguna internet di Indonesia sudah tak bisa dijangkau lagi. Yang bisa dilakukan hanya lebih menghargai pembuat music, karena dengan melakukan pembajakan secara massive membuat para musisi jatuh dan tidak bisa berkarya lagi.

Perkembangan teknologi membuat sebuah budaya pop yang “mungkin” sembunyi dari kehidupan nyata. Budaya itu adalah budaya membajak! Apakah kita bangsa yang sudah tidak punya rasa malu dan tidak menghargai karya anak bangsa? Jawab dan mulailah berpikir apakah budaya membajak ini adalah budaya bangsa Indonesia.

Mulai berhenti membajak music dengan mendownload atau membluetooth lagu-lagu yang tak original. Masih ada cara buat menikmati sebuah karya music dengan gratis, yaitu melalui menonton langsung band atau penyanyi yang manjadi favorit. Selain itu juga ada namanya Youtube pada era sekarang. Semua bisa deidengar dan dilihat melalui youtube.com. Dengan audio yang mungkin tidak sebagus dengan aslinya tapi setidaknya bisa menjadi pilihan ketika ingin mencari sebuah gratisan.

Repost from my kompasiana: kompasiana.com/bryan_088

Add comment

PROUDLY POWERED BY WORDPRESS ~ CREATED BY ISHYOBOY.COM